Menjadi Tua dan Mati


Di akhir hari tubuhku bakal remuk, hancur, dimakan cacing dan renik-renik. Tetapi aku sering lupa, padahal kenyataan ini sangat pasti dan terus semakin mendekat. Jika pikiranku tidak kubawa merenung, kesadaranku tak pernah menyentuh ini. Pikiran dan imajiku sibuk sekali, seramai ibukota. Sensasiku juga mudah sekali tergoda. Ingin ini, ingin itu, mau ini, mau itu. Mata melihat yang cantik, lalu aku mau. Telinga mendengar yang merdu, lalu aku ingin. Setiap saat begitu. Sibuk sekali, riuh sekali.

Coba dengarkan nafas dan hanya dengarkan nafas. Perhatikan. Susah sekali. Padahal ia ada dalam tubuhku dan setiap saat itulah yang terjadi. Ia ciri bahwa aku hidup. Coba diamkan tubuh, heningkan pikiran, dengarkan nafas dan perhatikan. Setiap kali kumasuk, pikiran jadi sangat sibuk, mengembara. Ingatan muncul silih berganti, sulit sekali dikendalikan. Liar, fokus tidak mudah didapat. Sudah kupindah tempat supaya dapat sudut penglihatan yang bagus, sudah kuputar lensa ke kiri ke kanan, berkali-kali, tangkapannya sulit sekali jernih.

Dimana aku? Siapa aku? Atau apa aku ini? Bagian mana dari semua yang menyeruak itu yang sebenarnya aku? Apakah aku ini hasratku? Apakah aku ini pikiranku? Atau  imajiku?

Jika kuikuti mauku, aku jadi sangat tidak stabil. Hari ini kulihat sesuatu. Aku tertarik. Lalu kukejar. Kuusahakan sekuat tenaga. Besok aku dapat. Aku senang. Tapi tak lama, yang kudapat itu hilang atau rusak. Aku lalu kecewa. Aku lihat. Aku mau. Aku kejar. Aku dapat. Ia hilang. Aku kecewa. Lalu kukerjakan lagi. Mengapa aku begitu bodoh melakukan ini berulang-ulang terus menerus? Setiap kali kumerenung, aku sadar hanya pusaran itulah yang kukerjakan. Tetapi kesadaran ini sangat licin. Sering terlepas.

Mengapa aku harus ikuti hasratku padahal ia menimbulkan kecewa dan sakit? Mengapa pikiranku tidak menghasilkan kesadaran untuk berjaga-jaga? Mengapa aku begitu bodoh menggenggam keyakinan bahwa apa yang bisa kudapat, yang bisa kumiliki, semua inilah yang bisa membuatku bahagia? Padahal setiap kali kumerenung, setiap kali kudengarkan detak nafas, aku dapatkan gambaran kenyataan bahwa apa pun yang bisa kudapat, yang bisa kumiliki, mereka semua fana, mereka tidak stabil, mereka tidak akan ada untuk selamanya, mereka pasti hilang. Bahkan tubuhku sendiri menua dan pasti menuju kemusnahan, ditunggu renik-renik buat santap malam.

Hasratku mengelabui. Godaan sensasi sangat dahsyat. Ia membenamkan kekuatan pikiranku untuk bisa sadar. Hasratku memenjara. Ia bilang, “Lihatlah itu! Betapa cantik! Kamu mau! Kejarlah! Dapatkan! Supaya kamu bahagia!” Padahal semua fana. Dan setiap kali apa yang kudapat hilang, aku sakit. Hasratku menggiriing aku ke pusaran derita. Tapi aku terkelabui. Jika kuikuti, hasratku cuma memberi janji kosong, membodohi pikiranku untuk menggenggam angan yang bukan realita.

Kenyataan adalah, bahwa semua yang ada, termasuk tubuhku, fana. Bagaimana mungkin aku, dengan tubuhku yang fana, yang pasti sirna, bisa memiliki sesuatu dengan cara tidak fana? Kalaupun ada benda-benda atau makhluk lain di luar tubuhku yang tidak fana, yang tidak akan musnah, bukankah aku tidak akan pernah bisa memilikinya selamanya karena akunya yang akan hilang? Kenyataan yang benar, aku dan tubuhku fana dan semua yang kutemukan di luar diriku juga fana. Jadi sangatlah tidak masuk akal dan sama sekali tidak akan pernah bisa dicapai, aku bisa memiliki sesuatu selamanya. Angan-angan bahwa bahagia bisa didapat dengan cara mendapatkan atau memiliki sesuatu, apa pun itu, menjadi sangat sia-sia.

Lalu, apakah ini berarti aku tidak boleh sama sekali mengikuti hasratku? Bukan begitu. Pagi-pagi aku lapar. Apakah aku tidak boleh mengikuti hasrat makanku karena aku pasti akan lapar lagi? Tentu aku harus makan, aku boleh bahkan harus ikuti hasratku, karena aku hidup. Tetapi aku kerjakan ini dengan kesadaran: aku lapar, aku makan, dan aku akan lapar lagi. Jadi aku bersiap-siap. Jadi aku tidak terkelabui khayal bahwa makanan yang kudapat dan kumasukkan ke dalam perut akan ada selamanya dan membuatku kenyang selamanya.

Hasrat adalah naluri. Naluri ini memenjara, membawa pada pusaran derita. Pada makan, minum, pusaran ini mudah aku pahami, kesadaranku tidak tenggelam. Setiap kali aku lapar-haus, aku makan-minum, dan aku tahu, sadar penuh bahwa aku akan lapar-haus lagi dan harus makan-minum lagi. Rasa tidak nyaman yang muncul saat aku lapar atau haus mudah aku tangani. Naluri yang lain, seks, butuh kesadaran lebih tinggi. Naluri  menjanjikan kesenangan, kenikmatan, kenyamanan, tetapiada  konsekuensi yang tidak boleh dilupakan dan harus dihadapi. Aku hanya boleh menikmati makan-minum makanan dan minuman yang aku dapat dari usahaku sendiri. Seks hanya boleh aku rasakan melalui lembaga pernikahan.  Setiap kali aku mau ikuti hasratku, aku harus sadar akan konsekuensinya.

Aku juga punya naluri lain, hasrat ingin memiliki; benda, makhluk hidup lain, bahkan sesuatu yang sama persis  dengan diriku; manusia. Aku ingin memiliki manusia lain. Hidupku tidak cukup dengan makan-minum, aku ingin memiliki ini itu, bukan cuma benda-benda tetapi bahkan manusia lain.

… catatan terbuang,

Intellectual Orgasm


Tahukah apa yang paling menyenangkan dari filsafat? Aku ingin sekali mengatakan, walau mungkin ini hiperbolis, filsafat memberiku deep orgasm. Tentu bukan instinctive orgasm, bukan orgasme birahi tetapi intellectual orgasm.

Kutunjukkan sedikit. Sampai batas tertentu aku bisa yakin kalau aku tahu hal-hal tertentu, tetapi ada pertanyaan2 lanjutan, “Mengapa begitu?” Aku bergerak dari ranah ontologis ke ranah epistemologis. Aku harus mengkaji ulang seluruh hal yang pernah tercerap ke dalam benakku. Bagaimana aku bisa yakin pengetahuanku itu benar? Sudahkah aku gunakan metode yang tepat? Bukankah upaya yang semberono atas pertanyaan sederhana “Apa itu?” bisa menghasilkan jawaban yang tidak tepat?

“Mengapa?” itu semakin kuat dan menjadi-jadi. Aku harus bisa mendemonstrasikan dengan jelas alasan-alasan: (1) yang benar dan (2) relevan di balik semua hal yang aku pegang. Bolehkah aku meyakini sesuatu begitu saja, taken for granted? Tidak. Karena ia bisa menghasilkan kesemerawutan. Jika aku bertindak berdasar keyakinan tanpa aku sendiri bisa menunjukkan alasan yang benar dan tepat yang mendasari keyakinanku itu, bagaimana aku bisa menetapkan batas tanggung jawabku sendiri? Padahal tanggung jawab ini ciri utama keberadaanku sebagai manusia. Aku pasti menghadapi konsekuensi logis dari semua dan setiap langkah yang aku buat. Keyakinan tertentu memang sama sekali tidak bisa ditemukan penjelasannya. Keyakinan semacam ini (jumlahnya sangat sedikit) memang taken for granted. Tetapi tidak lalu berarti aku boleh berleha-leha meninggalkan begitu saja upaya yang bisa aku tempuh untuk menemukan alasannya. Aku tidak boleh menerima dan menganut suatu keyakinan begitu saja karena kebanyakan orang melakukan hal serupa atau karena aku pernah diajari begitu. Aku tidak boleh misalnya, meyakini Tuhan, hanya karena orangtuaku mengajariku begitu. Keyakinanku mengenai Tuhan memang tidak bisa dijelaskan, tetapi aku harus tiba pada keyakinan semacam itu melalui jalan nalar. Aku harus memiliki alasan logis mengapa aku menerima keyakinan yang tidak logis.

Aku juga bergerak ke ranah lain, ranah aksiologis, hukum moral. Mengapa setiap kali aku dekatkan selembar kertas (kering) dengan api, kertas itu terbakar tanpa aku bisa memilih? Mengapa akibat yang timbul itu tidak mau mengikuti keinginanku? Seberapa seringpun kucoba, seberapa kuatpun keinginanku kukumpulkan, setiap kali aku mendekatkan kertas dengan api, kertas itu terbakar. Kalau begitu ada hukum yang memaksa yang tak bisa kuhindari dan tidak bergantung pada keinginanku. Hukum ini, yang mengatur benda-benda, hukum fisika, yang banyak dijelaskan oleh Newton dan Einstein bisa aku yakini ada berdasar penalaran logis dari akibat-akibat yang bisa aku temukan lewat observasi dengan hasil yang konsisten, dimanapun dan kapanpun. Dunia tempat tinggalku kalau begitu tunduk pada hukum fisika dan aku tidak bisa berbuat apa-apa. Tidak pernah kudengar ada orang mengajukan keberatan di muka pengadilan karena api membakar kertas atau benda-benda lain. Aku tidak punya kehendak bebas untuk mengendalikan proses pembakaran. Hal yang bisa aku lakukan adalah memilih apa aku akan mendekatkan kertas atau tidak dengan api. Di hadapan hukum fisika kehendak bebasku sirna. Aku tidak punya kekuatan apa-apa. Sisi menguntungkannya adalah aku bisa membuat prediksi dengan akurasi tinggi. Aku bisa mengatakan dengan yakin dan semua orang akan dengan mudah setuju bahwa kertas akan terbakar jika bersentuhan dengan api.

Bagaimana dengan hukum moral? Apakah ia ada? Hal apa yang bisa aku jadikan dasar untuk penalaran logis agar aku bisa membuat kesimpulan bahwa hukum moral itu ada? Kalau hukum moral itu ada, apakah ia berlaku universal, menghasilkan akibat yang konsisten seperti hukum fisika? Apakah di hadapan hukum moral pun aku tidak memiliki kehendak bebas? Kalau kehendak bebasku sirna, lalu bagaimana nasib kemanusiaanku? Mengapa aku harus dituntut tanggung jawab untuk sesuatu yang tidak bisa aku inginkan sekehendakku terjadinya? Apakah aku bisa membuat prediksi berlandaskan hukum moral?

Bercengkrama Dengan Search Engine: Traffic!!! Link!!!


Alexandra Kosteniuk

Alexandra Kosteniuk

Seperti dikatakan di situsnya, Alexandra Kosteniuk adalah seorang Grand Master Wanita (GMW [1998]) dan International Master (IM) di kalangan pecatur pria (2000). Pada kongress FIDE di Calvia (2004) Alexandra mendapat norma Grand Master (pria) dan menjadi wanita ke-10 dalam sejarah catur yang mendapatkan gelar ini.

Alexandra lahir di Perm, Rusia, 23 April 1984. Tinggal di Moskow sejak berusia satu tahun, lulus dari the Russian State Academy of Physical Education pada July 2003 dan sekarang menjadi trainer catur profesional. Ayahnya, Konstantin Vladimirovich, yang mengajarinya bermain catur ketika ia berusia 5 tahun.

Irene Kharisma Sukandar

Irene Kharisma Sukandar

Di sebelah kanan adalah Irene Kharisma Sukandar. Sayang belum tersedia banyak informasi mengenai Irene. di Wikipedia berbahasa Indonesia tertulis Irene Kharisma Sukandar (lahir di Jakarta, 7 April 1992) adalah seorang pecatur Indonesia pertama yang berhasil menyandang gelar Grand Master Internasional Wanita (GMIW) terhitung mulai Desember 2008.

Bagaimana aku bisa kesandung di situsnya Alexandra Kosteniuk? Aku menulis  Chess Game: Strategic Positioning and Timing dan approved di Articlesnatch. Post ini juga terbit di blog. Lama dibiarkan. Lalu pada Mei,15,2010 ada seseorang menulis komentar: Read more of this post

Firefox Dan Basic Stats Yang Perlu


Browser apa yang anda gunakan?

Saya pakai Firefox. Alasannya sederhana karena tersedia banyak add-on untuk melengkapi fitur standarnya. Hampir semua kebutuhan, kita bisa temukan add-on-nya. Firefox juga sebenarnya digunakan oleh pengguna advanced seperti para web developer. Add-on untuk kebutuhan berat seperti ini juga tersedia. Firefox bisa didapat di Mozilla.com.

Untuk penggunaan biasa, add-on apa saja yang sebaiknya terpasang?

WebRank Toolbar

webrank toolbar

webrank toolbar

WebRank Toolbar menampilkan angka stats PageRank, Alexa Rank, Compete Rank, Quancast Rank, Index halaman Google, Index halaman Bing, Index halaman Yahoo, Backlink Google, Baklink Bing dan Backlink Yahoo. Read more of this post

Cara Cepat Halaman Blog Baru Terindeks Google


Berapa lama Google butuh waktu untuk mengindeks halaman baru dan bagaimana cara kita mempercepat prosesnya selain menggunakan Google Webmaster Tool?

Pertanyaan ini diajukan oleh Vladgidea dari Rumania. Mari kita simak  apa kata Matt Cutts.

“Jawaban mudahnya,” begitu kata Matt Cutts,  “Dapatkan lebih banyak link. Kami bisa mengindeks halaman dalam hitungan detik. Atau dalam hitungan menit jika kami temukan halaman yang mendapat link dari situs terkenal seperti CNN. Begitulah crawler kami bekerja. Kami bisa temukan konten baru dengan sangat cepat. Kalau anda punya blog atau semacamnya, kami akan sering-sering mengunjunginya dan memeriksa apakah ada konten baru atau tidak. Yang terpenting  adalah pastikan anda memiliki cukup banyak link sehingga kami pikir blog atau situs anda penting dan bermanfaat, jadi crawler kami akan lebih sering mendatanginya.” Read more of this post

Internal Linking Pada Postingan Lama, Pengaruhnya Terhadap SERP


Thanks for your sharing, bagaimana jika kita memperbaiki internal linking kita pada postingan lama, apa juga ada pengaruhnya terhadap SERP Google, matur nuwun

Jawaban pendeknya ya. Tapi ini bukan satu-satunya faktor penentu. Asumsinya begini: Jika suatu halaman sudah berumur sangat lama dan struktur linknya tetap, ia akan ‘ditinggalkan’ oleh search engine. Crawler tidak lagi sering-sering nengokin. Crawler memanfaatkan cache untuk merujuk ke halaman ini. Tetapi jika kita buat perubahan struktur link atau mudahnya kita buat link baru ke halaman lama, crawler akan ikuti link baru ini, karena crawler tahunya cuma ngikutin link. Link ini, jalan buat crawler, kita sendiri yang atur. Kalau saya tidak salah link building kan sebenarnya menyangkut soal ini dan itu sebabnya pula ada yang disebut PageRank sculpting. Jadi halaman lama ini kembali ditengokin crawler. Read more of this post

Mary Roach: 10 Things You Didn’t Know About Orgasm


Home | About | Blogging | Daily Life | Insights | News | Videos | SEO

Terserak di Blogosphere: Search Engine Direktori Open Source


Pemahaman memadai mengenai istilah teknis tertentu harus didapat terlebih dulu sebelum kita menggunakan istilah itu dalam paparan (deskripsi) atau penjelasan (eksplanasi), terlebih dalam argumen yang akan digunakan sebagai dasar penarikan kesimpulan (konklusi). Pemahaman istilah yang tidak memadai, ketika istilah itu digunakan, akan menghasilkan paparan atau penjelasan yang tidak memadai. Jika digunakan dalam argumen, penggunaan istilah yang tidak memadai akan menghasilkan kesimpulan yang tidak valid. Read more of this post

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.