
Ide-ide itu bergentayangan, mengetuk-ngetuk dari dalam kepala, seperti orang ramai menabuh genderang. Tapi anehnya ketika mau dituangkan mereka menghilang. Kenapa ya? Ketukan-ketukan itu terus terasa.
Kesulitan menuangkan ide membuat orang males menulis. Kok menulis itu beda ya dengan bicara? Bicara rasanya lebih mudah kapanpun terasa ada yang ingin disampaikan. Apa sih sebenarnya bedanya? bicara dengan menulis? Apa karena bicara itu dengan mulut sementara menulis dengan tangan? Kenapa tidak bayangkan saja sewaktu menulis kita bicara tapi tidak diucapkan melainkan dengan gerak tangan?
Ah tidak juga. Tidak semudah itu. Tetap saja ada lebih sulitnya, menulis dibanding bicara. Apa mungkin karena ketika menulis, bahasa yang digunakan tidak sama dengan bahasa lisan? Atau karena ketika kita mencoba menuliskan ide ada jeda yang lebih lama dibanding ketika kita mengungkapkannya dengan lisan? Apa reflek yang dibutuhkan untuk menggerakkan bibir untuk bicara lebih cepat dibanding untuk menggerakkan tangan buat menulis? Entahlah, entahlah.
Read more of this post
Recent Comments