Pergilah Temukan Dan Jalani Hidupmu

Go! Find your very own way! Hidupmu kamu sendiri yang tentukan. Aku cuma antar sampai pintu gerbang. Dan ini sebenarnya yang harus aku kerjakan; berpegang pada apa yang dicontohkan orang-orang besar seperti Gandhi atau Theresa. Mereka kerjakan apa yang benar dan harus mereka kerjakan, tanpa ada kepentingan.

Tahukah kamu apa yang dilatihkan pada para penolong yang bekerja di kamp-kamp pengungsi? Terjun ke dalam derita dan secara mendalam bisa merasakan derita tetapi tidak turut menderita. Empati bukan simpati. Bagaimana mereka bisa lepaskan derita orang kalau mereka sendiri jadi menderita? Ingatkah kamu apa yang disampaikan sewaktu pesawat menuju runway sebelum tinggal landas? Ambil masker oksigen, pasangkan di wajahmu, baru kamu tolong orang lain.

Maksudnya, bagaimana bisa kamu tolong orang sebelum kamu sendiri mampu selesaikan urusanmu. Tapi bukan berarti mementingkan diri sendiri tanpa peduli keadaan sekitar. Selesaikan urusanmu, dengan begitu kamu sudah menolong orang lain dengan tidak meluapkan kesulitan.

Pernah dengar kisah orang yang diculik kemudian jatuh cinta pada penculiknya?

Inilah salah satu risiko yang harus diperhitungkan ketika orang berjalan bareng. Bukan suka atau tidak suka yang menjadi pokok. Suka dan tidak suka bisa berubah.

Sebaik-baik yang bisa dicapai, kebersamaan itu dilandasi kesamaan tujuan.  Dan tujuan itu harus lepas sama sekali dari alasan kesenangan. Tujuan itu dasarnya benar-salah, bukan suka-tidak suka atau senang-tidak senang. Ada beda tegas antara benar-salah dengan suka-tidak suka. Yang benar tak pasti menyenangkan, yang menyenangkan bisa jadi salah.

Toleransi ada pada tataran cara. Tetapkan dulu tujuan berdasar benar-salah, soal cara boleh jadi sedikit berbeda. Walau sebenarnya bakal jauh lebih mudah bila tujuan dan cara yang ditempuh sama.

Tanpa tujuan kita bisa jadi hilang arah dan terjerembab pada ilusi.

Bukankah itu yang kamu alami sekarang? Duduk di cockpit membawa pesawat berpenumpang lalu di tengah jalan kehilangan koordinat yang akan didarati? Di angkasa kamu bertanya, “Mau kemana kita ini?”

Semua jadi sangat terlambat (walau sebenarnya tidak). Terasa begitu banyak yang harus dipikirkan; penumpang harus dijamu, bahan bakar tidak lagi cukup untuk ke bandara lain. Kamu jadi terjebak dilema; jika ikuti arah pesawat kamu mulai bisa rasakan bakal celaka; berganti arah bukan urusan mudah, si pembawa pesawat tidak tahu koordinat lain selain yang sudah biasa ia jalani dan selama ini ia rasa mudah dan menyenangkan.

Aku cuma bisa antar sampai pintu gerbang. Gerbang itu bukan milik aku. Ada pemilik rumah dan hanya dia yang bisa membukakan kuncinya. Ialah yang memilih siapa yang ia suka untuk masuk atau tidak. Bahkan ada yang bisa keluar masuk. Menurutnya, tidak semua yang sudah melewati gerbang diijinkan masuk ke dalam rumah. Mereka ditempatkan pada tempatnya masing-masing. Ada kisah tentang seseorang yang ingin berguru lalu berdiri di depan gerbang dan mengetuk-ngetuk pintu. Pintu itu tak pernah dibukakan untuknya. Panas, hujan, salju turun, ia tetap berdiri di depan,  lama, gerbang itu tak pernah dibukakan untuknya. Ia potong tangannya sendiri supaya penjaga melihat deritanya, gerbang itu tak dibukakan untuknya.

Home | About | Blogging | Daily Life | Insights | News | Videos | SEO

Mari Tertawa

Mari tertawa, karena sesuatu yang lucu atau karena yang lain, bahkan karena kesulitan. Tertawa sangat menyenangkan. Tertawa adalah jalan pelepasan tekanan. Kita bisa sengaja merencanakan untuk tertawa; menonton komedi atau membuat tingkah lucu tak bermakna.

Tertawa, mungkin sama dengan orgasme. Di Tibet, di pegunungan tingginya, udara sangat tipis dan orang jadi sulit bernafas, terengah-engah, megap-megap. Orang tidak memikirkan orgasme, orang memikirkan bagaimana mendapatkan oksigen lebih banyak agar tarikan nafas panjang bisa dinikmati. Di kamp tawanan Perang Dunia, penghuninya lebih bergairah ketika disodori gambar coklat ketimbang gambar wanita seksi.

Tertawa tidak mesti terjadi hanya ketika orang menemukan hal-hal lucu yang menyenangkan. Sewaktu kesulitan hinggap, belokkan arah pikiran, kocok ulang susunan ‘logika’ atau buat konklusi dari premis-premis yang tidak nyambung dan kita bisa dapatkan humor.

Home | About | Blogging | Daily Life | Insights | News | Videos | SEO

Komentar Tidak Relevan? Ada ada saja

Perasaan, setiap kali mau menulis komentar selalu dipikirkan dulu apa isi terbaik yang bisa dituliskan agar hasilnya bukan sekedar say halo. Tema bahasannya pasti harus dibaca, coba dipahami dst, supaya komentarnya nyambung. Apalagi kalo mau menulis komentar di situs yang dimoderasi serius oleh editor khusus di masing-masing bidang yang disajikan. Dan sejauh ini belum pernah ada yang ditolak, kecuali satu, itupun karena kurang hati-hati membaca aturan main. Tapi yang ini pun akhirnya diloloskan setelah kemudian direvisi dulu dengan menghilangkan link yang tidak perlu atau dianggap sebagai ad text links. Read more of this post

Setengah Kosong Atau Setengah Isi?

Jadi ingat teka teki seorang teman dulu. Kalau kita lihat gelas berisi air setengahnya, apa yang mau kita bilang? Setengah isi atau setengah kosong? Kalo lihat kejadiannya, misalnya memang ada orang yang menuangkan air ke dalam gelas lalu airnya habis dan gelas itu baru terisi setengah, kita bisa mudah mengatakan gelas itu memang setengah isi. Tapi rupanya bukan itu yang dimaksud.

Baru belakangan teka teki ini agak sedikit terbuka. Ternyata ia mengandung makna lumayan dalam. Setengah isi setengah kosong ini berurusan dengan harapan dan pesimisme. Pilihan orang ketika menjawab teka teki ini mencerminkan cara berpikirnya. Optimiskah? atau sebaliknya. Read more of this post

Fal, Bagaimana Kabarmu Di Surga?

Would you know my name
If I saw you in heaven
Will it be the same
If I saw you in heaven
I must be strong, and carry on
Cause I know I don’t belong
Here in heaven

Tears in Heaven, Eric Clapton

Fal, Bagaimana kabarnya di surga (heaven)? Andai fisikawan bisa menemukan frekuensi yang bisa menyambungkan kita, aku akan senang sekali menerima kabar dari sana. Aku mau tanyakan keadaan di sana; apa yang terjadi di sana; apa akibat yang bisa timbul di sana karena kelakuan kita di sini. SMS ga bisa mencapai ke sana. Tidak ada roaming yang menjangkau ke sana.

Aku masih ingat no telepon kamu masih ada di telepon aku lama setelah kamu meninggal. Aku ga terima kabar sedikitpun soal kamu, soal bagaimana keadaan kamu setelah pertemuan kita yang terakhir di tempat kerja aku. Kematian kamu sampai ke telinga aku sayup dari tetangga. Aku sudah tanyakan bagaimana kejadian sebenarnya ke orang yang aku kira dekat, tapi aku tak dapat jawaban memuaskan.

Aku jarang bersedih, atau emosi aku memang mungkin tak begitu sensitif untuk urusan yang aku pikir memang seharusnya terjadi. Mungkin karena pengaruh masa kecil. Jika sesuatu memang harus terjadi, ya terjadilah. Tuhan ciptakan dunia ini sangat lengkap dengan segala sesuatu yang diperlukan untuk hidup dan rule yang mengatur mekanismenya. Jadi apa yang perlu disedihkan? Sakit atau senang, sama saja. Tak perlu ada merajuk. Tapi kematian kamu membuat aku benar-benar merasa jadi manusia. Aku sedih.

Pertemuan kita yang terakhir itu (seingat aku), aku jadi ingat sekarang, aku yakin sebenarnya waktu itu kamu perlu sesuatu, dan aku punya. Tapi aku tahu kamu bukan orang yang suka mengeluh, apalagi sekedar urusan perut. Kamu memang suka mempertanyakan tajam dan mendalam segala sesuatu, sering disisipi kejengkelan, tapi semua kesulitan kamu, bukan urusan yang bersumber dari naluri hewani. Itu sebabnya aku senang berteman dan bicara banyak dengan kamu. Walaupun sering aku temukan banyak yang kurang pada cara kamu mengupas sesuatu. Aku juga tidak berani bertanya atau menawarkan apa yang kamu perlu waktu itu. Aku sangat menghargai kamu, dalam kesahajaan kamu, dalam cara berpikir kamu. Aku waktu itu cuma memberi kamu segalas air manis, kalau aku tidak salah.

Nomor telepon itu masih aku simpan agak lama setelah aku yakin kamu memang meninggal. “Di rumah sakit,” begitu kata orang yang aku tanyai. Jadi rupanya sakit kamu parah. Kenapa tidak ada kabar sama sekali? Apa tidak terpikir misalnya, kasih tahu teman soal keadaan kamu. Aku tahu, miskin aku sama, aku tidak akan bisa menolong apa-apa, tapi setidaknya kabar itu bisa ada manfaatnya. Atau aku sekarang egois, egocentris? Aku menyalahkan kamu karena rasa sedih aku? Entahlah, mungkin begitu. Tapi aku rasa ada baiknya kabar itu disampaikan. Aku sempat berpikir gila, berharap telepon berdering dan kamu bicara. Andai itu benar-benar terjadi dan aku belum tahu kamu meninggal padahal kamu sudah meninggal, aku yakin aku akan merasa senang. Agak lama aku biarkan nomor telepon kamu tersimpan dan masih juga aku berpikir siapa tahu ada sms masuk dari nomor kamu. Tapi, lama-lama aku pikir, aku ini manusia biasa, hidup biasa, aku tidak punya kelebihan apa-apa, semua kehidupan aku terikat dan tunduk pada hukum yang berlaku untuk kehidupan di alam ini. Jadi akhirnya aku lupakan pikiran itu dan aku hapus nomor telepon kamu.

Coba kalau David Deutsch, Bill Joy, Stephen Hawking, atau orang yang bicara soal proyek SETI@home adalah teman-teman aku seperti kamu teman aku, mungkin aku bisa tanya mereka, mungkin tidak aku punya frekuensi yang bisa aku buat sendiri oscillator-nya supaya aku bisa berhubungan dengan kamu?

Cuma aku yakin kamu bisa melihat aku, termasuk ketika aku menulis ini sekarang. Kamu bisa tahu dan melihat jelas apa yang aku kerjakan, tidak ada yang tertutup dari aku. Dari mana aku punya keyakinan seperti ini, aku tidak tahu pasti alasannya, atau ini hanya sekedar harapan atau imajinasi? Tapi aku punya sedikit alasan untuk soal ini. Kamu sekarang ada di ‘dunia’ yang tidak terkungkung materi. Kamu bukan materi lagi sekarang (kita memang bukan materi tapi ruh, begitu bukan?); kamu ruh murni, ruh yang sudah terlepas dari kandang tubuh. Tubuhmu sudah remuk dimakan renik tanah. Jadi tidak ada lagi batasan kapanpun kamu ingin ‘melihat’, ‘mendengar’ dst. Kamu tidak akan mengalami lagi keheranan, ketakjuban seperti yang sering kamu ungkapkan setiap kali kita bertemu dan terlibat obrolan panjang. Kamu sudah terbebas. Tidak ada lagi jeda antara harapan atau keinginan dengan sesuatu yang ditujunya. Karena kamu memang sekarang sudah tidak lagi punya pendorong keinginan. Bukankah keinginan itu dari nafsu? Nafsumu sudah lepas. Nafsu hanya ada untuk menggerakkan raga. Sementara aku masih terkungkung di sini, dalam penjara tubuh. Ruhku masih didampingi  yang lain yang memang harus ada karena aku masih di sini, di alam fana.

Aku sekarang sedang mengerjakan sesuatu yang, seperti kebiasaan aku, juga aku tahu kebiasaan kamu, menyedot hampir semua energiku. Sedikit-demi sedikit aku mulai memahami apa yang aku mau tahu. Inilah Fal, mungkin bedanya hidup kita di sini, di dunia fana, dengan ‘hidup’ kamu di ‘sana’. Aku bisa ‘menikmati kesenangan’ mengejar apa yang aku mau tahu, apa yang aku mau pahami. Bukankah disana, di tempatmu sekarang, tidak ada hal seperti ini? Beritahu aku Fal. Entah bagaimanapun caranya.

Aku juga berteman, dekat, dengan beberapa orang belakangan ini. Tapi rasanya kebiasaanku jauh panggang dari api dengan mereka. Aku tidak ingin ragaku memenjara aku dan tidak memberi celah sedikitpun untuk melepaskan diri, walaupun aku tahu cuma kematian yang bisa membuatku seperti itu. Aku memilih untuk menerima pemikiran bahwa kita ini makhluk transenden, makhluk yang bisa bergerak ke atas, vertikal, bertumbuh, bukan sekedar ke samping, membiak, horisontal. Maksudku Fal, aku sulit berdekatan dengan mereka yang mengagungkan kesenangan raga, yang sekedar mengikuti dorongan hawa nafsu atau naluri; makan, minum, beranak, tanpa didasari pemahaman akan sesuatu yang lebih dalam dari semua kelakuan yang muncul karena dorongan itu. Teman-temanku itu mudah menjawab ketika aku tanyakan ke mereka; apa yang kamu kerjakan? Tapi kalau aku tanya lagi mereka; kenapa kamu kerjakan itu? mereka merengut dan balik bertanya, kenapa kamu tanyakan itu? (Santai aja, lagi). Bukankah segala sesuatu itu selalu mengandung sesuatu di baliknya, Fal? Dan sesuatu di balik sesuatu itulah yang sebenarnya seharusnya kita dapatkan?

Bagaimana kabarmu di surga, Fal? Tidak bisakah kamu beritahu aku penglihatanmu, bagaimanamun caranya? Aku harap kamu senang ada di sana sekarang, deritamu sudah terlepas, sakitmu sudah sirna, karena ragamu sudah kamu tinggalkan. Nafsumu sudah tak lagi ada. Aku juga pasti menuju ke sana. Dan kuharap kita ‘bertemu’.

Home | About | Blogging | Daily Life | Insights | News | Videos | SEO

Darimana Anda Tahu Password Facebook Saya?

facebook

Dari mana anda mengetahui password Facebook saya?
pernah sekali anda posting menggunakan account saya dengan redirec ke http://djuyadi.wordpress.com/
saya peringatkan anda untuk tidak lagi membuka account facebook saya.

Email ini masuk seminggu lalu, 2010/4/21, dari seseorang, tidak kenal, sewaktu lagi asik-asik nyari bahan soal PageRank.

Ga terlalu dipedulikan, walau menjengkelkan (maaf). Tapi akhirnya gatel juga ngomentari, lumayan buat bahan nambah-nambah tulisan.

Ada kontradiksi tajam, mungkin tidak disadari penulisnya. Di satu sisi ada kesulitan mendalam, “Dari mana anda mengetahui password Facebook saya?”, di sisi lain, berani mengambil kesimpulan dan memvonis, “saya peringatkan anda untuk tidak lagi membuka account facebook saya.” Read more of this post

Jangan baca! Sasa dan Ajinomoto

Sasa dan Ajinomoto

Jangan ikuti cerita ini apalagi ingin mengambil sesuatu dari tema ceritanya karena kisah ini tak ada intinya, ngawur.

Read more of this post

Blog Feed ke Facebook, Boss-ku Malah Protes

“Bisa ga kalo aku posting di blog ga muncul semuanya di Facebook?”

“Lo emang kenapa?”

“Soalnya kalo aku posting tiga atau lima dalam sehari, terus mucul semua di Facebook, Wall-ku jadi terlalu penuh. Terus kalo keseringan update orang jadi bosen.”

Cuplikan pembicaraan di telepon. Jadi sempet sewot gara-gara permintaan ini. Soalnya kejadian yang dikeluhkan itu memang sengaja dibuat seperti itu supaya setiap posting di blog serta merta muncul di Facebook. Itu lo via RSS Feed.

Konten blog, apalagi yang komersial, harus di-share di social bookmarking sites supaya dapet link dan traffic. Supaya ada penjualan. Itu sebabnya commercial-blog-nya beliau itu dibuatkan juga akunnya di Facebook. Lalu supaya ga repot bolak-balik blog-Facebook, lewat Facebook>Profile>Wall>Option>Setting subscribe ke RSS Feed blognya. Eh masih juga protes. Pie toh Boss? Read more of this post

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.