Pikiran Memerangkap

Mengapa orang berbeda? Mengapa orang tertentu sampai di posisi tertentu sementara yang lain tidak? Mengapa aku ada di sini sekarang di tempatku? Nasib? Tidak ada tafsir memadai mengenai nasib. Ia adalah alasan terakhir saat kita terdesak dan tidak bisa kemukakan penjelasan mengenai sesuatu yang teramat sulit dimengerti.

Kita didorong oleh pemikiran kita sendiri mengenai dunia yang melingkupi kita. Pilihan, pertimbangan, gaya hidup adalah tafsir mengenai dunia yang kita tinggali. Orang menjadi jahat karena ia pikir dunia memang jahat, orang menjadi belas kasih karena ia bisa melihat semua orang berbelas kasih, orang meratap karena ia pikir dunia tidak adil.

Jika kita ikuti model-model pemahaman tentang dunia, kita akan melihat betapa beragamnya tafsir yang ada. Padahal, bukankah dunia yang kita tinggali ini sama untuk setiap orang? Dunia yang kita tinggali itu satu, itu-itu juga semenjak ia tercipta hingga kini.

Apakah indera yang membedakan? Bukan. Indera kita sama; mata kita sama, telinga kita sama. Boleh jadi memang ada orang tertentu yang kemampuan inderanya melebihi kemampuan rata-rata, tetapi jumlahnya tidak siginifikan. Kita bisa yakin mengatakan bahwa kita sama dan dunia yang kita tinggali juga sama.

Pikiranlah yang membuat kita berbeda karena ia lebih otonom dibanding indera. Pikiran bisa keluar dan melepaskan diri dari dirinya sendiri. Perut berhenti berkeroncong sewaktu kenyang, mata dan telinga terbatas memandang dan mendengar sebatas kemampuannya. Ada garis tegas mengenai keluasan jangkauannya. Tetapi pikiran bisa pergi jauh dari batas-batas wilayah rambahannya. Pikiran bahkan tak tentu batas. Pikiran harus menemukan dan menentukan sendiri batasnya.

Pikiran bisa keluar dari tubuhnya dan memandang dirinya sendiri. Mata hanya bisa melihat semua yang di luar dirinya, mata tidak bisa melihat dirinya sendiri. Telinga hanya bisa mendengar semua yang berasal dari luar dirinya, telinga tidak bisa mendengar dirinya sendiri. Tetapi pikiran bisa memikirkan dirinya sendiri. Pikiran bisa membayangkan semua yang ada di luar dirinya, pikiran juga bisa membalikkan arah dan merenungkan dirinya sendiri.

Detik demi detik yang dilewati membentuk citra dalam pikiran mengenai dunia yang orang tinggali. Kenungkinannya sangat-sangat khas untuk tiap orang. Ada persamaan pada manusia keseluruhan, tetapi ada perbedaan sangat khas pada masing-masing. Citra ini kemudian menjadi visi, membentuk garis haluan; kemana orang akan pergi, apa pilihan tindakannya. Pada saatnya orang akan menemukan posisi yang dicapainya. Dan semua dirorong oleh visi yang ia ciptakan sendiri.

Bagi Hitler, Saddam, Nebukanezar dunia adalah tempat penaklukan. Di mata Newton tak ada yang lebih menarik dari dunia selain mekanismenya.

Pikiran memerangkap dan jika tafsirnya mengenai dunia sudah terbentuk, ia sulit mengubah dirinya sendiri. Butuh tangan orang lain.

Home | About | Blogging | Daily Life | Insights | News | Videos | SEO

10 Alasan Membuat Blog

10 Alasan Blogging

Image: ces.ca.uky.edu

Blogging menjadi semakin populer dan digemari. Buat apa terjun ke blogosphere? Bacalah daftar berikut untuk membantu kita membuat keputusan. Read more of this post

Apa Artinya Semua Ini Buat Kamu?

Apa Artinya Semua Ini Buat Kamu?

Image: Positive Psychology News

Ada yang menyelinap dalam. Pertanyaan tidak lagi berkutat seputar apa ini apa itu, ingin tahu ini itu, ingin merasakan ini itu, tapi mempertanyakan lebih jauh apa yang sudah, sedang dan akan dikerjakan. Soal apa yang ingin dikerjakan, kini terasa jauh lebih banyak pertimbangan  dibanding dulu ketika windu yang terlewati belum sebanyak sekarang. Mengapa harus aku kerjakan ini? Untuk apa dulu aku kerjakan ini dan itu?

Pergulatan pikiran menjadi lebih banyak dan seru. Kemanfaatan suatu tindakan seringkali menjadi lebih mengemuka dibanding alasan kesenangan. Mengapa begini? Dulu kapanpun menginginkan sesuatu, yang lebih mendorong adalah godaan kesenangan dan kepuasan. Kini terasa seperti berdiri di ketinggian dan melihat ke bawah. Segala sesuatu kelihatan dari kejauhan, tapi menyeluruh. Pandangan tidak lagi sedetil ketika berada di bawah, tapi keluasannya melebar. Read more of this post

Quotes: “Aku” ini, “Ego” ini Hanyalah Produk Pikiran

Quotes: Aku ini, Ego ini Hanyalah Produk Pikiran

Image:  Jumper Networks

Tidak ada yang pokok atau permanen.

Yang ada hanya sebuah proses yang berubah terus menerus, mengalir menurut sebab dan kondisi.

Tetapi kegelapan batin yang salah, menganggap ini sebagai suatu wujud permanen “aku” dan “ego”.

Jangan melekat pada pemikiran dan perasaan berdasar pada “aku” dan “milikku”, maka semua derita dan masalah akan berakhir.

Home | About | Blogging | Daily Life | Insights | News | Videos | SEO

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.