Deschooling Society: I Lost My Degree

Deschooling Society

Orang tertentu memiliki pemikiran mendunia sehingga kita, yang tidak bertemu, tidak semasa bisa menangkap dan terpengaruh oleh pemikiran mereka. Intensitas pengaruh itu beragam; warna, nuansa dan kekentalannya. Kondisi real kita pada saat menerima dan menyerap pemikiran tsb menjadi salah satu penyebabnya.

Masih membekas, Ahad pagi di beranda Masjid Salman, Ganeca, ngobrol bersama, ketika tiba-tiba seorang teman mengungkapkan, kira-kira, “Sekolah formal tidak bisa bisa membebaskan kita…” bahwa sekolah formal malah membelenggu. Sumber rujukannya: Deschooling Society,  Ivan Illich.

Teman ini (dimana ia skr?) bercerita bagaimana ia sudah berhasil diterima di sebuah Perguruan Tinggi Negeri, lalu meninggalkannya dan pergi ke beberapa kota. Di setiap kota ia mengikuti kelas yang ia mau. Bandung, salah satunya, dan di sini, sebelum obrolan Ahad pagi itu terjadi, ia sudah sempat mengikuti kelas tertentu di lingkungan Ganeca. Bandung tujuan akhir? Bukan, begitu katanya. Ia akan melanjutkan ke kota-kota lain dan akan melakukan hal yang sama.

Lalu bagaimana ia memanage urusan sekolahnya? Menurutnya, ia  memiliki semacam self-study-guide, menulis catatan perjalanan tersusun yang bisa ia jadikan report untuk kemudian diajukan sebagai karya ilmiah. Ada kok, katanya, Perguruan Tinggi yang tidak mensyaratkan kehadiran. Pengikutnya melakukan riset sendiri dan hasilnya diajukan kemudian untuk dievaluasi.

Home | About | Blogging | Daily Life | Insights | News | Videos | SEO

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s