Menulis Ketika Sulit Menulis

Menulis Ketika Sulit Menulis

Ide-ide itu bergentayangan, mengetuk-ngetuk dari dalam kepala, seperti orang ramai menabuh genderang. Tapi anehnya ketika mau dituangkan mereka menghilang. Kenapa ya? Ketukan-ketukan itu terus terasa.

Kesulitan menuangkan ide membuat orang males menulis. Kok menulis itu beda ya dengan bicara? Bicara rasanya lebih mudah  kapanpun terasa ada yang ingin disampaikan. Apa sih sebenarnya bedanya? bicara dengan menulis? Apa karena bicara itu dengan mulut sementara menulis dengan tangan? Kenapa tidak bayangkan saja sewaktu menulis  kita bicara tapi tidak diucapkan melainkan dengan gerak tangan?

Ah tidak juga. Tidak semudah itu. Tetap saja ada lebih sulitnya, menulis dibanding bicara. Apa mungkin karena ketika menulis, bahasa yang digunakan tidak sama dengan bahasa lisan? Atau karena ketika kita mencoba menuliskan ide ada jeda yang lebih lama dibanding ketika kita mengungkapkannya dengan lisan? Apa reflek yang dibutuhkan untuk menggerakkan bibir untuk bicara lebih cepat dibanding untuk menggerakkan tangan buat menulis? Entahlah, entahlah.

Loh tapi buktinya ini ada tulisan sampai beberapa paragraf? Ya sih aneh juga. Tapi bukan ini sebenarnya yang mau dituliskan. Ide sesungguhnya yang mau disajikan jelas-jelas bukan ini. Apakah tulisan ini mengandung ide? Tulisan ini malah bicara kesulitan sewaktu mau menyatakan ide yang sebenarnya. Idenya  sendiri tidak terungkapkan.

Tapi…Horeee! Lebih baik kita rayakan juga. Ternyata dalam kesulitan menuangkan ide lewat tulisan bisa juga ada tulisan. Dengan begini paling tidak  momentum tetap terjaga.  Ide-ide itu tidak lenyap dan hangus begitu saja dari kepala walaupun yang akhirnya keluar jadi tulisan bukan ide yang dimaksudkan semula. Kesenangan menulis jadi tetap terpuaskan.

Oya, ada ide nih. Mungkin kesulitan yang dihadapi ketika mau menulis, terjadi karena ide yang mau dituliskan itu masih samar atau paling tidak karena masih terserak di sana sini, belum jadi satu kesatuan utuh, belum berdiri seperti bangunan yang kita kenal. Mungkin seperti kita melihat sesuatu yang bentuk dan strukturnya belum kita lihat sebelumnya, jadinya kita bingung  dan tidak bisa mengatakan apa sebenarnya yang kita lihat. Mungkin.

O ya satu lagi. Mungkin bicara itu jadi lebih mudah karena suara yang dihasilkan dari ucapan mengandung intonasi. Intonasi kan lebih mencerminkan emosi dibanding struktur logika pikiran. Karena setiap kali kita mengungkapkan sesuatu selalu mengandung pikiran dan emosi, maka bicara jadi lebih mudah dibanding menulis. Ucapan memiliki dua saluran sekaligus, untuk pikiran dan emosi. Lain dengan menulis. Bagaimana misalnya kita mengungkapkan dalam tulisan suatu kata yang diucapkan dengan suara lantang atau biasa saja. Bukan berarti dalam tulisan tidak ada jalan sama sekali untuk menyatakan hal seperti ini, tetapi diperlukan upaya tambahan berupa tanda-tanda baca dst., atau, benar tidak ya, tulisan itu tidak memiliki intonasi seperti intonasi yang terungkap dalam ucapan?

Kok jadi nulis ini sih…

Home | About | Blogging | Daily Life | Insights | News | Videos | SEO

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s