Paradoks: Ketidaktahuan Adalah Derita

Ketidaktahuan itu adalah derita, dan menyakitkan. Mungkin itu yang mendorong blog ini. Dalam bahasa Sidarta Gautama, ketidaktahuan itu adalah dukha. Buddha mengajarkan berpikir benar agar kita berucap benar dan berperilaku benar. Ketidaktahuan adalah penghalang.

Tidak ada hal spesifik dalam blog ini. Anda yang mencari sesuatu dalam lingkup terbatas dengan kajian  mendalam tentu akan kecewa dengan apa yang tersaji di blog ini.

Tetapi segala sesuatu sangat menarik dan menakjubkan di dunia ini. Internet dengan segala ragam isinya memberi sumber kekayaan sangat melimpah dan tersedia untuk diakses siapapun. Internet dengan kata lain adalah sumber dan sekaligus tempat untuk menghilangkan derita dan dukha. Tinggal kita memilih.

SEO (Search Engine Optimatization) sangat menarik untuk dipelajari dan dipraktekkan. Ada kejar-kejaran kemampuan antara pemegang kuasa rangking (Google) dan kita yang tak bisa menolak daya tariknya.

Filsafat memberi pencerahan. Ia mengajak untuk mempertanyakan segala sesuatu, termasuk keyakinan-keyakinan yang tanpa sadar kita genggam sejak usia dini. Kaji ulang apa yang kita anggap dan yakini begini dan begitu. Adakah makna di balik semua pilihan dan kelakuan kita?

Sains menunjukkan jalan berpikir berbeda, lebih ketat dan sempit. Segala sesuatu harus terkait dengan factual evidences. Segala sesuatu harus bisa diobservasi.

Tetapi tidak semua hal bisa dipahami hanya dengan mengandalkan observasi dan bahkan kemampuan akal untuk berpikir. Ada hal-hal yang sama sekali harus diterima begitu saja, tanpa reserve. Ada yang muhkamah (jelas, dan mudah dicerna) tetapi juga banyak yang mutasyabihat, sesuatu yang mengharuskan kita menggunakan tidak saja akal (ia terbatas kemampuannya untuk ini) tetapi perangkat lain untuk dapat mencernanya. Agama mengajarkan ketundukkan total di hadapan Kuasa yang sama sekali tak tergambarkan dan terbayangkan. Akal jadi harus dikesampingkan bahkan dihentikan penggunaannya.

Seperti paradoks tetapi sesungguhnya kesemuanya adalah elemen seperti not-not dalam tangga nada yang harus ada agar sebuah lagu indah bisa tercipta. Tinggal kita belajar agar sanggup menyusun semuanya dalam harmoni.

Home | About | Blogging | Daily Life | Insights | News | Videos | SEO

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s