Fal, Bagaimana Kabarmu Di Surga?

Would you know my name
If I saw you in heaven
Will it be the same
If I saw you in heaven
I must be strong, and carry on
Cause I know I don’t belong
Here in heaven

Tears in Heaven, Eric Clapton

Fal, Bagaimana kabarnya di surga (heaven)? Andai fisikawan bisa menemukan frekuensi yang bisa menyambungkan kita, aku akan senang sekali menerima kabar dari sana. Aku mau tanyakan keadaan di sana; apa yang terjadi di sana; apa akibat yang bisa timbul di sana karena kelakuan kita di sini. SMS ga bisa mencapai ke sana. Tidak ada roaming yang menjangkau ke sana.

Aku masih ingat no telepon kamu masih ada di telepon aku lama setelah kamu meninggal. Aku ga terima kabar sedikitpun soal kamu, soal bagaimana keadaan kamu setelah pertemuan kita yang terakhir di tempat kerja aku. Kematian kamu sampai ke telinga aku sayup dari tetangga. Aku sudah tanyakan bagaimana kejadian sebenarnya ke orang yang aku kira dekat, tapi aku tak dapat jawaban memuaskan.

Aku jarang bersedih, atau emosi aku memang mungkin tak begitu sensitif untuk urusan yang aku pikir memang seharusnya terjadi. Mungkin karena pengaruh masa kecil. Jika sesuatu memang harus terjadi, ya terjadilah. Tuhan ciptakan dunia ini sangat lengkap dengan segala sesuatu yang diperlukan untuk hidup dan rule yang mengatur mekanismenya. Jadi apa yang perlu disedihkan? Sakit atau senang, sama saja. Tak perlu ada merajuk. Tapi kematian kamu membuat aku benar-benar merasa jadi manusia. Aku sedih.

Pertemuan kita yang terakhir itu (seingat aku), aku jadi ingat sekarang, aku yakin sebenarnya waktu itu kamu perlu sesuatu, dan aku punya. Tapi aku tahu kamu bukan orang yang suka mengeluh, apalagi sekedar urusan perut. Kamu memang suka mempertanyakan tajam dan mendalam segala sesuatu, sering disisipi kejengkelan, tapi semua kesulitan kamu, bukan urusan yang bersumber dari naluri hewani. Itu sebabnya aku senang berteman dan bicara banyak dengan kamu. Walaupun sering aku temukan banyak yang kurang pada cara kamu mengupas sesuatu. Aku juga tidak berani bertanya atau menawarkan apa yang kamu perlu waktu itu. Aku sangat menghargai kamu, dalam kesahajaan kamu, dalam cara berpikir kamu. Aku waktu itu cuma memberi kamu segalas air manis, kalau aku tidak salah.

Nomor telepon itu masih aku simpan agak lama setelah aku yakin kamu memang meninggal. “Di rumah sakit,” begitu kata orang yang aku tanyai. Jadi rupanya sakit kamu parah. Kenapa tidak ada kabar sama sekali? Apa tidak terpikir misalnya, kasih tahu teman soal keadaan kamu. Aku tahu, miskin aku sama, aku tidak akan bisa menolong apa-apa, tapi setidaknya kabar itu bisa ada manfaatnya. Atau aku sekarang egois, egocentris? Aku menyalahkan kamu karena rasa sedih aku? Entahlah, mungkin begitu. Tapi aku rasa ada baiknya kabar itu disampaikan. Aku sempat berpikir gila, berharap telepon berdering dan kamu bicara. Andai itu benar-benar terjadi dan aku belum tahu kamu meninggal padahal kamu sudah meninggal, aku yakin aku akan merasa senang. Agak lama aku biarkan nomor telepon kamu tersimpan dan masih juga aku berpikir siapa tahu ada sms masuk dari nomor kamu. Tapi, lama-lama aku pikir, aku ini manusia biasa, hidup biasa, aku tidak punya kelebihan apa-apa, semua kehidupan aku terikat dan tunduk pada hukum yang berlaku untuk kehidupan di alam ini. Jadi akhirnya aku lupakan pikiran itu dan aku hapus nomor telepon kamu.

Coba kalau David Deutsch, Bill Joy, Stephen Hawking, atau orang yang bicara soal proyek SETI@home adalah teman-teman aku seperti kamu teman aku, mungkin aku bisa tanya mereka, mungkin tidak aku punya frekuensi yang bisa aku buat sendiri oscillator-nya supaya aku bisa berhubungan dengan kamu?

Cuma aku yakin kamu bisa melihat aku, termasuk ketika aku menulis ini sekarang. Kamu bisa tahu dan melihat jelas apa yang aku kerjakan, tidak ada yang tertutup dari aku. Dari mana aku punya keyakinan seperti ini, aku tidak tahu pasti alasannya, atau ini hanya sekedar harapan atau imajinasi? Tapi aku punya sedikit alasan untuk soal ini. Kamu sekarang ada di ‘dunia’ yang tidak terkungkung materi. Kamu bukan materi lagi sekarang (kita memang bukan materi tapi ruh, begitu bukan?); kamu ruh murni, ruh yang sudah terlepas dari kandang tubuh. Tubuhmu sudah remuk dimakan renik tanah. Jadi tidak ada lagi batasan kapanpun kamu ingin ‘melihat’, ‘mendengar’ dst. Kamu tidak akan mengalami lagi keheranan, ketakjuban seperti yang sering kamu ungkapkan setiap kali kita bertemu dan terlibat obrolan panjang. Kamu sudah terbebas. Tidak ada lagi jeda antara harapan atau keinginan dengan sesuatu yang ditujunya. Karena kamu memang sekarang sudah tidak lagi punya pendorong keinginan. Bukankah keinginan itu dari nafsu? Nafsumu sudah lepas. Nafsu hanya ada untuk menggerakkan raga. Sementara aku masih terkungkung di sini, dalam penjara tubuh. Ruhku masih didampingi  yang lain yang memang harus ada karena aku masih di sini, di alam fana.

Aku sekarang sedang mengerjakan sesuatu yang, seperti kebiasaan aku, juga aku tahu kebiasaan kamu, menyedot hampir semua energiku. Sedikit-demi sedikit aku mulai memahami apa yang aku mau tahu. Inilah Fal, mungkin bedanya hidup kita di sini, di dunia fana, dengan ‘hidup’ kamu di ‘sana’. Aku bisa ‘menikmati kesenangan’ mengejar apa yang aku mau tahu, apa yang aku mau pahami. Bukankah disana, di tempatmu sekarang, tidak ada hal seperti ini? Beritahu aku Fal. Entah bagaimanapun caranya.

Aku juga berteman, dekat, dengan beberapa orang belakangan ini. Tapi rasanya kebiasaanku jauh panggang dari api dengan mereka. Aku tidak ingin ragaku memenjara aku dan tidak memberi celah sedikitpun untuk melepaskan diri, walaupun aku tahu cuma kematian yang bisa membuatku seperti itu. Aku memilih untuk menerima pemikiran bahwa kita ini makhluk transenden, makhluk yang bisa bergerak ke atas, vertikal, bertumbuh, bukan sekedar ke samping, membiak, horisontal. Maksudku Fal, aku sulit berdekatan dengan mereka yang mengagungkan kesenangan raga, yang sekedar mengikuti dorongan hawa nafsu atau naluri; makan, minum, beranak, tanpa didasari pemahaman akan sesuatu yang lebih dalam dari semua kelakuan yang muncul karena dorongan itu. Teman-temanku itu mudah menjawab ketika aku tanyakan ke mereka; apa yang kamu kerjakan? Tapi kalau aku tanya lagi mereka; kenapa kamu kerjakan itu? mereka merengut dan balik bertanya, kenapa kamu tanyakan itu? (Santai aja, lagi). Bukankah segala sesuatu itu selalu mengandung sesuatu di baliknya, Fal? Dan sesuatu di balik sesuatu itulah yang sebenarnya seharusnya kita dapatkan?

Bagaimana kabarmu di surga, Fal? Tidak bisakah kamu beritahu aku penglihatanmu, bagaimanamun caranya? Aku harap kamu senang ada di sana sekarang, deritamu sudah terlepas, sakitmu sudah sirna, karena ragamu sudah kamu tinggalkan. Nafsumu sudah tak lagi ada. Aku juga pasti menuju ke sana. Dan kuharap kita ‘bertemu’.

Home | About | Blogging | Daily Life | Insights | News | Videos | SEO

2 thoughts on “Fal, Bagaimana Kabarmu Di Surga?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s