Setengah Kosong Atau Setengah Isi?

Jadi ingat teka teki seorang teman dulu. Kalau kita lihat gelas berisi air setengahnya, apa yang mau kita bilang? Setengah isi atau setengah kosong? Kalo lihat kejadiannya, misalnya memang ada orang yang menuangkan air ke dalam gelas lalu airnya habis dan gelas itu baru terisi setengah, kita bisa mudah mengatakan gelas itu memang setengah isi. Tapi rupanya bukan itu yang dimaksud.

Baru belakangan teka teki ini agak sedikit terbuka. Ternyata ia mengandung makna lumayan dalam. Setengah isi setengah kosong ini berurusan dengan harapan dan pesimisme. Pilihan orang ketika menjawab teka teki ini mencerminkan cara berpikirnya. Optimiskah? atau sebaliknya.

Yang memilih setengah isi, ia bersyukur dengan apa yang sudah ada, lalu seberapa banyakpun yang sudah digenggamnya ia manfaatkan dan tidak kehilangan tenaga untuk kemudian terus mengisi gelasnya. Yang memilih setengah kosong, ia kehilangan harapan, pikirannya menuju ke bawah, ke kedalaman lubang yang akan membuatnya terperangkap dalam kesulitan. Ia tidak pernah merasa puas dengan apa yang dicapainya. Atau terlalu bodoh mengukur kelewat tinggi kemampuannya hingga apa yang dicapainya terasa selalu tidak sesuai harapannya.

Ada teman yang sudah punya bisnis berjalan. Bisnis konvensional. Kalo dibilang sebenarnya pasar penjualannya bisa lebih dibuka dengan membuat media promosi di Internet, ia cepat-cepat menutup, “Ga ngerti, ini juga sudah cukup.” Gelasnya sudah penuh? Hebat sekali. Soal ga ngerti kan bisa dipelajari, tidak perlu lah menjadi expert. Atau kenapa tidak percayakan orang lain mengerjakannya, tidak mahal bahkan sebenarnya bisa dibilang gratis. “Bagaimana soal penghasilannya?” ia balik tanya. Ya sederhana, logikanya kita pasang perangkap untuk pembeli dengan mengatakan pada dunia kita punya produk atau jasa yang bisa memenuhi kebutuhan mereka. Soal berapa dapatnya nanti, kenapa tidak berpikir ke belakang bagaimana dulu bisnisnya dimulai? Tidak ada yang bisa benar-benar kita pastikan, walau setiap kali kita mulai sesuatu harus selalu ada planning.

Kenapa sangat sulit menerima sesuatu yang baru, yang belum bisa dimengerti? Bukan berarti sesuatu yang belum atau tidak bisa kita mengerti itu salah. Bukankah sebaiknya malah kita yang belajar untuk bisa mengerti? Taro lah setelah promosi produk dan jasa lewat Internet itu kita kerjakan,  hasilnya tidak begitu boom tapi biasa-biasa saja seperti yang bisa didapat dari operasional sehari-hari. Taro lah begitu, bukankah ini sesuatu yang menguntungkan? Kenapa jadi berpikir aneh dan super cupet, “Kalo hasilnya begitu-begitu juga, buat apa lah maen-maen Internet segala, cukup saja dengan apa yang sudah ada.” Loh bukankah gelas itu baru setengah terisi sebenarnya? Bukankah apa yang sudah dicapai sekarang dari operasional sehari-hari belum mencapai titik maksimal, hanya saja kita tidak punya sudut pandang bagus untuk bisa melihatnya dan keburu merasa cukup? Setengah kosong atau setengah isi?

Home | About | Blogging | Daily Life | Insights | News | Videos | SEO

2 thoughts on “Setengah Kosong Atau Setengah Isi?

  1. itu cuma masalah mindset & presepsi, ada juga masalah cara : pandang top down atau bott bottom up, ada yg memandang dari sisi proses 1/2 isi berarti sdh ada progress bertambah sdgkan 1/2 kosong berarti berkurang,..ada juga masalah lebih pd kalau mengatakan 1/2 isi drpd 1/2 kosong.., ..sdj

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s