Aku Pasti Mati

Aku pasti mati, dan satu-satunya yang kutahu cuma ini. Semua pengetahuan yang kudapat, semua nisbi. Benarkah apa yang kulihat adalah apa yang kulihat? Sejak lama muncul spekulasi soal ini. Aku juga pernah bertemu Tuhan dan berdialog tanpa hizab, ketika ruhku baru dihidupkan, “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” lalu kujawab, “Ya, benar. Aku bersaksi Engkau Tuhanku.” Pertemuan ini sangat terlupakan ketika aku keluar dari rahim ibuku. Ingatan soal ini sangat halus. Sesekali ia mengemuka di saat sangat khusus dan khas. Dalam kesunyian.

Pertemuan ini membawa rindu dalam ketika nadi terasa dan nafas jelas terdengar. Tetapi selalu sangat sulit untuk dipahami, tidak seperti rindu akan benda, tempat atau manusia. Wahai Tuhan, sangat berdosalah aku karena ingatan tentangMu hanya datang di saat-saat beban menghimpit. Kala nafsu terpenuhi, Engkau kujauhkan.

Berbahagialah orang yang menantikan pertemuan dengan Tuhannya; Pertemuan lanjutan setelah pertemuan awal yang sangat-sangat terlupakan.

Benarkah kulihat apa yang kulihat? Mengapa jalan kereta tampak bersatu di kejauhan? Mengapa gunung tinggi terlihat kecil di kejauhan? Mataku, telingaku potensinya terbatas, ia disesuaikan dengan kebutuhan hidupku. Andai tak begitu, hidupku pasti tak nyaman.

Mengapa orang dulu berpikir bumi ini datar dan di ujungnya jurang menganga hingga kita bisa terjatuh bila sampai di tepinya? (Belum pernah ada yang sampai di tepinya). Mengapa bumi kini berbentuk bola setelah orang bisa keluar dan melihatnya dari kejauhan? Tetapi benarkah bumi ini seperti bola? Pengetahuan ini tidak pasti, ia berubah dan pasti berubah. Lagi. Kemampuan kita yang terbataslah yang membuatnya begitu. Penglihatan dan pemahaman kita temporer.

Tetapi kematian, buktinya sudah terlalu jelas. Bukankah hidup ini tidak dimulai ketika aku lahir? Bukankah sebelumnya sudah ribuan, jutaan, milyaran orang hidup sebagaimana aku, dan mereka kemudian mati? Bukankah pengetahuan yang kudapat sekarang ini sebagian besar berasal dari mereka yang sekarang sudah tak lagi hidup? Bukankah aku lahir dari ibuku yang ibunya sudah tak lagi hidup? Setiap kulihat leher kambing disayat, kambing itu mati. Kematian terlalu jelas, sangat jelas. Dan pasti.

Home | About | Blogging | Daily Life | Insights | News | Videos | SEO

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s