Intellectual Orgasm


Tahukah apa yang paling menyenangkan dari filsafat? Aku ingin sekali mengatakan, walau mungkin ini hiperbolis, filsafat memberiku deep orgasm. Tentu bukan instinctive orgasm, bukan orgasme birahi tetapi intellectual orgasm.

Kutunjukkan sedikit. Sampai batas tertentu aku bisa yakin kalau aku tahu hal-hal tertentu, tetapi ada pertanyaan2 lanjutan, “Mengapa begitu?” Aku bergerak dari ranah ontologis ke ranah epistemologis. Aku harus mengkaji ulang seluruh hal yang pernah tercerap ke dalam benakku. Bagaimana aku bisa yakin pengetahuanku itu benar? Sudahkah aku gunakan metode yang tepat? Bukankah upaya yang semberono atas pertanyaan sederhana “Apa itu?” bisa menghasilkan jawaban yang tidak tepat?

“Mengapa?” itu semakin kuat dan menjadi-jadi. Aku harus bisa mendemonstrasikan dengan jelas alasan-alasan: (1) yang benar dan (2) relevan di balik semua hal yang aku pegang. Bolehkah aku meyakini sesuatu begitu saja, taken for granted? Tidak. Karena ia bisa menghasilkan kesemerawutan. Jika aku bertindak berdasar keyakinan tanpa aku sendiri bisa menunjukkan alasan yang benar dan tepat yang mendasari keyakinanku itu, bagaimana aku bisa menetapkan batas tanggung jawabku sendiri? Padahal tanggung jawab ini ciri utama keberadaanku sebagai manusia. Aku pasti menghadapi konsekuensi logis dari semua dan setiap langkah yang aku buat. Keyakinan tertentu memang sama sekali tidak bisa ditemukan penjelasannya. Keyakinan semacam ini (jumlahnya sangat sedikit) memang taken for granted. Tetapi tidak lalu berarti aku boleh berleha-leha meninggalkan begitu saja upaya yang bisa aku tempuh untuk menemukan alasannya. Aku tidak boleh menerima dan menganut suatu keyakinan begitu saja karena kebanyakan orang melakukan hal serupa atau karena aku pernah diajari begitu. Aku tidak boleh misalnya, meyakini Tuhan, hanya karena orangtuaku mengajariku begitu. Keyakinanku mengenai Tuhan memang tidak bisa dijelaskan, tetapi aku harus tiba pada keyakinan semacam itu melalui jalan nalar. Aku harus memiliki alasan logis mengapa aku menerima keyakinan yang tidak logis.

Aku juga bergerak ke ranah lain, ranah aksiologis, hukum moral. Mengapa setiap kali aku dekatkan selembar kertas (kering) dengan api, kertas itu terbakar tanpa aku bisa memilih? Mengapa akibat yang timbul itu tidak mau mengikuti keinginanku? Seberapa seringpun kucoba, seberapa kuatpun keinginanku kukumpulkan, setiap kali aku mendekatkan kertas dengan api, kertas itu terbakar. Kalau begitu ada hukum yang memaksa yang tak bisa kuhindari dan tidak bergantung pada keinginanku. Hukum ini, yang mengatur benda-benda, hukum fisika, yang banyak dijelaskan oleh Newton dan Einstein bisa aku yakini ada berdasar penalaran logis dari akibat-akibat yang bisa aku temukan lewat observasi dengan hasil yang konsisten, dimanapun dan kapanpun. Dunia tempat tinggalku kalau begitu tunduk pada hukum fisika dan aku tidak bisa berbuat apa-apa. Tidak pernah kudengar ada orang mengajukan keberatan di muka pengadilan karena api membakar kertas atau benda-benda lain. Aku tidak punya kehendak bebas untuk mengendalikan proses pembakaran. Hal yang bisa aku lakukan adalah memilih apa aku akan mendekatkan kertas atau tidak dengan api. Di hadapan hukum fisika kehendak bebasku sirna. Aku tidak punya kekuatan apa-apa. Sisi menguntungkannya adalah aku bisa membuat prediksi dengan akurasi tinggi. Aku bisa mengatakan dengan yakin dan semua orang akan dengan mudah setuju bahwa kertas akan terbakar jika bersentuhan dengan api.

Bagaimana dengan hukum moral? Apakah ia ada? Hal apa yang bisa aku jadikan dasar untuk penalaran logis agar aku bisa membuat kesimpulan bahwa hukum moral itu ada? Kalau hukum moral itu ada, apakah ia berlaku universal, menghasilkan akibat yang konsisten seperti hukum fisika? Apakah di hadapan hukum moral pun aku tidak memiliki kehendak bebas? Kalau kehendak bebasku sirna, lalu bagaimana nasib kemanusiaanku? Mengapa aku harus dituntut tanggung jawab untuk sesuatu yang tidak bisa aku inginkan sekehendakku terjadinya? Apakah aku bisa membuat prediksi berlandaskan hukum moral?

Paradoks: Ketidaktahuan Adalah Derita


Ketidaktahuan itu adalah derita, dan menyakitkan. Mungkin itu yang mendorong blog ini. Dalam bahasa Sidarta Gautama, ketidaktahuan itu adalah dukha. Buddha mengajarkan berpikir benar agar kita berucap benar dan berperilaku benar. Ketidaktahuan adalah penghalang.

Tidak ada hal spesifik dalam blog ini. Anda yang mencari sesuatu dalam lingkup terbatas dengan kajianĀ  mendalam tentu akan kecewa dengan apa yang tersaji di blog ini. Continue reading

Realitas dalam Filsafat, Sains dan Agama


Realitas dalam Filsafat, Sains dan Agama Filsafat, sains dan agama beribicara mengenai realitas, segala sesuatu yang bisa kita cerap. Filsafat lahir terlebih dulu, sains baru muncul kemudian. Filsafat muncul karena ketakjuban mendalam ketika orang bersentuhan dengan realitas (dunia tempat hidupnya dan dirinya sendiri). Ketakjuban ini meninggalkan goresan mendalam dan tak henti menimbulkan pertanyaan. Orang kemudian mengajukan pertanyaan dengan sengaja untuk mendapatkan penjelasan. Dari mana asal semua benda? Apa itu cinta, kebaikan, kebahagiaan? Orang kemudian berolah pikir, sekuat tenaga menggunakan kemampuan akalnya untuk mendapatkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan seperti itu. Sudah banyak yang bisa dicapai dan dihasilkan. Sudah banyak manfaat yang bisa diambil dan hingga kini penyelidikan semacam itu tidak berhenti. Continue reading